Berawal dari Tanah Wakaf, Tumbuh Menjadi Sekolah
Sejarah berdirinya Sekolah Dasar Alam Muhammadiyah Indrasari Martapura tidak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang sebuah tanah wakaf yang berada di Desa Binlu, yang saat ini dikenal sebagai Desa Indrasari, Martapura, Kabupaten Banjar. Pada tahun 1997, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Banjar (PDM Banjar) menerima amanah berupa tanah wakaf dari H. Salim Hasan, seorang jamaah keturunan Arab Martapura. Tanah tersebut diwakafkan untuk dapat dimanfaatkan bagi kepentingan umat dan kemajuan Persyarikatan Muhammadiyah.
Seiring berjalannya waktu, muncul gagasan untuk memanfaatkan tanah tersebut bagi pembangunan fasilitas kesehatan. Pada tahun 2009, sempat direncanakan pembangunan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah di atas tanah wakaf tersebut. Namun, setelah melalui berbagai pertimbangan, rencana tersebut akhirnya dibatalkan karena lokasi dinilai kurang strategis untuk pengembangan rumah sakit.
Setelah rencana pembangunan rumah sakit batal, tanah wakaf tersebut selama bertahun-tahun belum mendapatkan pengelolaan yang optimal. Puluhan tahun berlalu, kondisi tanah semakin tidak terurus. Tempat yang seharusnya menjadi aset produktif Persyarikatan justru berubah menjadi lokasi pembuangan sampah liar dan ditumbuhi berbagai tanaman liar yang tumbuh tinggi. Kondisi tersebut menjadi sebuah keprihatinan sekaligus tantangan bagi Muhammadiyah untuk menghidupkan kembali fungsi tanah wakaf tersebut.
Gagasan Membangun Sekolah
Pada tahun 2018, muncul sebuah gagasan yang kemudian menjadi titik balik sejarah tanah wakaf tersebut. Seorang kader Muhammadiyah sekaligus guru sekolah dasar, Ustadz Firman Hadi, mengajukan usulan kepada Pimpinan Muhammadiyah agar tanah wakaf tersebut dikelola dan dimanfaatkan sebagai sekolah Muhammadiyah.
Tidak sekadar mengusulkan, Ustadz Firman Hadi juga menyatakan kesediaannya untuk merintis dan mengembangkan sekolah tersebut dari awal. Gagasan tersebut bukanlah sesuatu yang mudah untuk diwujudkan. Sejumlah pimpinan Muhammadiyah sempat menyampaikan keraguan. Letak tanah yang relatif jauh dari komunitas warga Muhammadiyah menjadi salah satu pertimbangan. Bahkan, secara sosial dan kultural, wilayah tersebut dapat dikatakan berada di tengah komunitas masyarakat yang mayoritas dekat dengan tradisi Nahdlatul Ulama.
Pertanyaan besar pun muncul:
Kekhawatiran tersebut bukan tanpa alasan. Pada masa itu, masih terdapat pengalaman dan dinamika sosial berupa penolakan terhadap keberadaan maupun gerakan Muhammadiyah di beberapa wilayah.
Namun, keraguan tersebut tidak menyurutkan langkah Ustadz Firman Hadi. Dengan penuh keyakinan, beliau meyakinkan para pimpinan Muhammadiyah bahwa sekolah yang akan dibangun bukanlah sekadar sekolah Muhammadiyah dengan model konvensional, melainkan sebuah sekolah alam dengan konsep pendidikan yang baru dan berbeda.
Menurut gagasan yang dibawanya, model Sekolah Alam merupakan sesuatu yang relatif baru dan belum berkembang di Kota Martapura pada saat itu. Keunikan konsep tersebut diyakini akan menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Ustadz Firman Hadi meyakini bahwa masyarakat pada akhirnya akan menerima sekolah yang memberikan alternatif pendidikan yang baik, menyenangkan, dekat dengan alam, sekaligus menanamkan nilai-nilai Islam. Keyakinan tersebut kemudian menjadi energi untuk memulai langkah besar.
Merintis dari Keterbatasan
Persiapan pendirian sekolah mulai dilakukan. Berbagai kebutuhan untuk penerimaan peserta didik baru dipersiapkan, termasuk menyiapkan ruang belajar dan fasilitas awal sekolah. Di tengah keterbatasan tersebut, terdapat sebuah bangunan tua yang telah lama berdiri di atas tanah wakaf. Bangunan tersebut sebelumnya pernah dimanfaatkan sebagai pabrik roti. Bangunan tua itu kemudian direnovasi dan disulap menjadi ruang yang jauh lebih bermakna. Dari bangunan sederhana tersebut lahirlah ruang kelas dan kantor pertama Sekolah Dasar Alam Muhammadiyah Martapura. Tidak ada kemewahan pada awal perjalanan itu. Yang ada adalah tanah wakaf, bangunan sederhana, semangat, keyakinan, dan cita-cita besar untuk menghadirkan pendidikan Muhammadiyah bagi masyarakat.
Juli 2018: Sebuah Perjalanan Dimulai
Setelah melalui berbagai persiapan, pada bulan Juli 2018, secara resmi berdirilah Sekolah Dasar Alam Muhammadiyah Martapura, yang kemudian berkembang menjadi Sekolah Dasar Alam Muhammadiyah Indrasari Martapura. Pada tahun pertama, sekolah ini memulai perjalanan dengan kondisi yang sangat sederhana, yaitu hanya memiliki:
- 5 orang siswa
- 3 orang guru
- ruang kelas dan kantor yang berasal dari bangunan lama yang telah direnovasi.
Lima orang siswa tersebut menjadi bagian penting dari sejarah sekolah. Mereka adalah generasi pertama yang menjadi saksi lahirnya sebuah lembaga pendidikan dari tanah yang sebelumnya terbengkalai. Dari lima siswa dan tiga guru, sebuah mimpi mulai tumbuh. Dari Tanah Terbengkalai Menjadi Ladang Pendidikan
Perjalanan Sekolah Dasar Alam Muhammadiyah Indrasari Martapura sesungguhnya merupakan sebuah kisah tentang menghidupkan kembali amanah wakaf dan mengubah keterbatasan menjadi peluang. Tanah yang dahulu terbengkalai, dipenuhi sampah dan tanaman liar, perlahan berubah menjadi tempat anak-anak belajar, bermain, bertumbuh, dan menemukan pengalaman hidup.
Bangunan tua yang dahulu digunakan sebagai pabrik roti berubah menjadi ruang kelas dan kantor. Tanah yang semula dipandang kurang strategis untuk rumah sakit justru menemukan fungsi strategisnya dalam bidang pendidikan. Lebih dari sekadar mendirikan sebuah sekolah, kehadiran sekolah ini menjadi ikhtiar untuk menghadirkan pendidikan Islam yang ramah, unggul, menyenangkan, dan dekat dengan alam serta kehidupan masyarakat.
Konsep sekolah alam kemudian terus dikembangkan dengan memadukan nilai-nilai Al-Qur'an dan Sunnah, pendidikan karakter, kepemimpinan, kecintaan terhadap lingkungan, pembelajaran berbasis pengalaman, serta pengembangan potensi setiap anak.
Keyakinan yang Menjadi Kenyataan
Kekhawatiran tentang apakah masyarakat akan menerima sekolah Muhammadiyah tersebut perlahan mendapatkan jawabannya. Kehadiran Sekolah Dasar Alam Muhammadiyah Martapura menjadi bukti bahwa pendidikan yang berkualitas, ramah, terbuka, dan memberikan manfaat bagi masyarakat mampu melampaui batas-batas perbedaan sosial maupun tradisi.
Sekolah tidak hadir untuk mempertentangkan perbedaan, tetapi hadir untuk memberikan manfaat dan menjadi bagian dari masyarakat. Apa yang pada awalnya merupakan sebuah gagasan yang diragukan, perlahan tumbuh menjadi sebuah lembaga pendidikan yang memiliki cita-cita besar.
Perjalanan itu bermula dari sebidang tanah wakaf pada tahun 1997, melewati masa terbengkalai selama bertahun-tahun, kemudian menemukan kembali arah pemanfaatannya melalui sebuah gagasan pada tahun 2018. Dari 5 siswa dan 3 guru, sekolah terus bertumbuh dan berproses menjadi bagian dari perjalanan pendidikan di Kabupaten Banjar.
Menjaga Amanah, Melanjutkan Perjuangan
Sejarah berdirinya Sekolah Dasar Alam Muhammadiyah Indrasari Martapura mengajarkan bahwa sebuah perubahan besar sering kali dimulai dari sebuah keyakinan sederhana dan keberanian untuk mengambil langkah pertama. Tanah wakaf yang diamanahkan oleh H. Salim Hasan pada tahun 1997 kini memiliki kehidupan baru. Amanah tersebut tidak berhenti sebagai sebidang tanah, tetapi terus diupayakan menjadi ladang amal jariyah melalui pendidikan.
Para pendiri dan perintis sekolah telah meletakkan fondasi. Generasi berikutnya memiliki tugas untuk melanjutkan, menjaga, dan mengembangkan amanah tersebut agar sekolah semakin memberikan manfaat bagi masyarakat, Persyarikatan Muhammadiyah, agama, bangsa, dan generasi masa depan.
Dari tanah wakaf, lahir sebuah sekolah.
Dari sebuah sekolah, tumbuh generasi.
Dan dari generasi itulah diharapkan lahir peradaban.
Sekolah Dasar Alam Muhammadiyah Indrasari Martapura
Menjadi lembaga pendidikan yang mengutamakan penanaman nilai Islam, unggul, dan ramah.
Artikel lainnya di kategori Artikel